Tafsir Surah Al-Mutaffifin (Bag. 3): Berlombalah, Raih Kenikmatan Surga Allah
Pada bagian kedua tadabbur surah ini, kita telah membaca bagaimana akhir kisah dari orang-orang yang durhaka, durhaka kepada Allah dengan tidak beriman kepada hari kiamat serta apa yang dibawa pada Rasul, serta berbuat zalim dengan berlaku curang dalam timbangan. Pada tulisan ketiga ini, Allah berbicara kepada kita tentang kebalikannya, yaitu kisah kesudahan orang-orang yang taat kepada-Nya, menjalankan segala apa yang datang dari syariat-Nya, berbuat kebaikan dan ihsan kepada sesama makhluk. Allah tampakkan di sini berbagai kenikmatan yang dirasakan, selama-lamanya di surga. Dimana hal ini menjadi motivasi, agar kita berlomba mencari kehidupan nikmat abadi di surga kelak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
كَلَّآ اِنَّ كِتٰبَ الْاَبْرَارِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَۗ
“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyun.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 18)
Allah membuka ayat ini dengan kalimat كَلَّآ yang bisa dimaknai dengan dua makna. Makna pertama adalah “Benar, sungguh benar”. Jika ini kita ambil, maka maknanya adalah penegasan bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh berada pada Illiyun. Makna kedua adalah “Sekali-kali tidak”; inilah makna yang diambil oleh Kemenag RI dalam terjemahannya. Berdasarkan makna kedua ini, ayat ini menghancurkan tuduhan orang-orang musyrik bahwa kitab catatan amal orang-orang saleh juga berada di Sijjin.
Sesungguhnya catatan amal orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang berbuat baik dan tidak melakukan kecurangan dalam kehidupan sosialnya, berada pada Illiyun. Kemudian, apa itu Illiyun?
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا عِلِّيُّوْنَۗ , كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ
“Tahukah engkau, apakah ‘Illiyyun itu? (Itulah) kitab yang berisi catatan (amal).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 19-20)
Allah Ta’ala melanjutkan dengan meletakkan kalimat tanya tentang apa itu Illiyun, apakah engkau wahai Rasulullah mengetahuinya? Bentuk pertanyaan ini disampaikan sebagai bentuk pengagungan terhadap perkara yang sedang dibahas, serta agar manusia yang menyimak menjadi lebih serius karena mereka benar-benar tidak tahu apa itu Illiyun.
Perbedaan pendapat mufassirun (ahli tafsir) berkaitan Illiyun adalah seperti perbedaan mereka dalam menafsirkan Sijjin yang dibahas di potongan ayat sebelumnya. Apakah كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌۙ merupakan tafsir dan penjelasan atas عِلِّيُّوْنَۗ atau bukan? Maka, ulama berbeda pendapat atasnya.
Dalam At-Tashil, Imam Ibnu Juzay berpendapat bahwa Illiyun adalah bentuk mubalaghah dari kata al-uluw yang bermakna tinggi. Hal ini dikarenakan dengan catatan amal yang baik dan berada pada Illiyun, menjadi sebab orang saleh ini naik dan meninggi derajatnya di surga. Beliau juga memberikan tafsiran lain, yaitu bahwa Illiyun adalah suatu tempat di surga yang sangat tinggi, bahkan sampai-sampai tempat itu berada di bawah Arsy Allah Ta’ala. Dalam Tafsir Mahasinut Ta’wil dijelaskan bahwa Illiyun adalah suatu kitab yang berisi amal-amal kebajikan dari orang-orang saleh yang jiwanya dipenuhi dengan cahaya hidayah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَۗ
“Yang disaksikan oleh (malaikat-malaikat) yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 21)
Kitab Illiyun ini berisi catatan amal kebaikan yang disaksikan, yaitu dijaga oleh para malaikat muqorrobun. Ketika Allah Ta’ala memerintahkan malaikat ini untuk menjaga lauhul mahfuzh atau lembara-lembaran yang terjaga, Allah juga perintahkan mereka untuk menjaga kitab Illiyun ini.
Amal-amal kebaikan hamba yang tadinya berada pada catatan setiap malaikat yang mengawasi individu tertentu, kemudian akan dipindahkan ke kitab Illiyun ini, sehingga menjadi saksi yang meringankan hisab mereka di hari kiamat.
Tafsir lain menjelaskan bahwa ketika ruh seorang mukmin dicabut dari jasadnya, akan dibawa membumbung tinggi menuju arsy Allah Ta’ala sebagai bentuk perhormatan. Kemudian dikeluarkan lembaran-lembaran suci untuknya, di sana dituliskan ketetapan dan tanda keselamatan baginya, yang mempermudah dirinya untuk melanjutkan perjalanan di kubur, padang mahsyar, hisab, sampai akhirnya menginjakkan kakinya di surga. Semua ini disaksikan langsung oleh para malaikat muqorrobun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اِنَّ الْاَبْرَارَ لَفِيْ نَعِيْمٍۙ , عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ
“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan (sambil) melepas pandangan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 22-23)
Orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, mereka berada dalam kenikmatan yang besar dan abadi di surga kelak. Mereka diberikan fasilitas kemewahan, salah satunya berupa dipan atau ranjang yang penuh kenikmatan. Mereka bebas memandang ke segala sisi, dan yang bisa mereka lihat hanyalah kenikmatan dan kebahagiaan. Seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan kerja keras dan kecapekan, kemudian pulang ke rumah, berbaring di sebuah ranjang yang empuk, melepaskan lelah dan peluh kesusahan, kemudian terlepas dari lisannya kalimat semisal, “Ah, nikmatnya.” Segala lelah dan beratnya hidup di dunia terbayarkan dengan surga Allah yang sangat luas.
Allah benar-benar menggunakan gambaran yang sangat faktual atas kenikmatan ini. Penyebutan ranjang dan dipan bukanlah kebetulan, akan tetapi benar-benar pilihan Allah untuk semakin mengaduk-aduk rasa bahagia seorang hamba yang membaca ayat ini. Semakin memotivasi mereka untuk beramal agar mendapatkan nikmat ini. Memberikan mukjizat visual yang dapat terbayangkan betapa nikmatnya, bersenderan beristirahat di ranjang empuk setelah sebelumnya “bekerja keras” di dunia mencari keridaan Allah.
Kenikmatan yang didapatkan bukan hanya berupa kenikmatan fisik berupa makanan yang enak, minuman enak, pasangan yang baik, akan tetapi juga kenikmatan-kenikmatan jiwa yang sifatnya lebih abstrak seperti rida dari Allah, serta bahwa Allah tidak akan pernah lagi marah kepada mereka, dan paling tinggi dari itu semua adalah nikmat bertemu dan melihat Allah di surga kelak.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِۚ
“Engkau dapat mengetahui pada wajah mereka gemerlapnya kenikmatan.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 24)
Jika sesama penghuni surga saling memandang penghuni surga yang lain, akan sangat kentara dan terlihat bekas-bekas gemerlapnya kenikmatan yang mereka rasakan. Air muka pernuh kebahagiaan, senyuman-senyuman yang sangat indah dipandang, semua itu dari Allah Ta’ala. Allah tambahkan kepada wajah dan fisik mereka bentuk keindahan yang tidak dapat digambarkan indahnya dengan sekedar kata-kata.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍۙ , خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنٰفِسُوْنَۗ
“Mereka diberi minum dari khamr murni (tidak memabukkan) yang (tempatnya) masih diberi lak (sebagai jaminan keasliannya). Laknya terbuat dari kasturi. Untuk (mendapatkan) yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 25-26)
Allah Ta’ala berikan merek minuman kenikmatan, yaitu salah satunya adalah khamr murni yang tidak memabukkan, tidak membuat pusing, tidak menghilangkan fungsi akal, dan tidak merusak sendi-sendi kehidupan moral bersosial. Khamr ini ditutup dan disegel dengan lak atau lakeri, yaitu sebuah tutup dan perekat yang biasanya terbuat dari lilin dan damar yang dicairkan, digunakan untuk menyegel suatu wadah minuman agar terjaga keasliannya. Lak dari khamr ini adalah kasturi yang sangat wangi, masih terjaga keasliannya dari pertama Allah ciptakan. Penghuni surgalah yang pertama kali membuka tutup ini sehingga masih sangat segar untuk diminum. Itulah ar-rahiqul makhtum, suatu miuman khamr murni yang tidak memabukkan dan disegel sehingga sangat segar.
Khamr yang disajikan di atas dipan-dipan ini adalah khamr yang berbeda dengan sungai khamr yang ada di surga. Serta setelah meminum khamr ini sampai kenyang, wangi yang dihasilkan juga adalah kasturi yang sangat wangi. Berbeda dengan khamr dunia yang membuat peminumnya berbau busuk.
Maka, dengan berbagai kenikmatan ini, berlomba-lombalah wahai orang-orang yang beriman untuk mendapatkannya. Surga adalah “barang dagangan” Allah yang sangat berharga dan mahal. Segeralah berlari, kejar dengan kecepatan penuh kenikmatan abadi ini. Allah memotivasi kita untuk berlomba karena sejatinya manusia adalah makhluk yang suka berlomba dan mengungguli orang lain. Jadikanlah lomba paling besar kita adalah lomba menuju Allah Ta’ala, bukan perlombaan dunia yang tidak ada hasilnya di akhirat, lebih-lebih lagi berlomba untuk siapa cepat menuju neraka, Sekali-kali jangan.
Dalam hadis riwayat Imam Abu Dawud dan Tirmidzi, dari sahabat Abu Said Al-Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan,
أيُّما مسلمٍ كسا مسلمًا ثوبًا على عُريٍ كساه اللهُ من خُضَرِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ أطعم مسلمًا على جوعٍ أطعمه اللهُ من ثمارِ الجنَّةِ، وأيُّما مسلمٍ سقَى مسلمًا على ظمأٍ سقاه اللهُ عزَّ وجلَّ من الرحيقِ المختومِ
“Seorang muslim yang memberikan pakaian kepada muslim lain yang tidak berpakaian, maka Allah akan berikan kepadanya jubah hijau sutra surga. Seorang muslim yang memberi makan muslim lain yang kelaparan, maka Allah akan menjamunya dengan buah-buahan surga. Seorang muslim yang memberi minum kepada muslim lain yang kehausan, maka Allah akan berikan kepadanya minuman ar-rahiqul makhtum.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ , عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَۗ
“Campurannya terbuat dari tasnīm, (yaitu) mata air yang diminum oleh mereka yang didekatkan (kepada Allah).” (QS. Al-Muṭaffifīn [83]: 27-28)
Belum selesai sampai situ, setelah Allah memotivasi untuk berlomba dalam kebaikan, Allah tambah lagi kenikmatan minuman penghuni surga ini. Campuran dari ar-rahiqul makhtum ini adalah tasnim, yaitu minuman dari mata air yang mengalir turun dari surga bagian atas. Ini adalah minuman paling mulia di surga. Semoga Allah berikan rahmat-Nya, serta memberikan izin kepada kita untuk minum dari mata air yang mulia ini.
[Bersambung]
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Artikel asli: https://muslim.or.id/116452-tafsir-surah-al-mutaffifin-3.html